Site icon BeritaViva24

Chew Jetty, Perkampungan Terapung Bersejarah Di Pulau Pinang

Chew Jetty

Chew Jetty, Perkampungan Terapung Bersejarah Di Pulau Pinang

Chew Jetty Merupakan Salah Satu Destinasi Wisata Paling Unik Banyak Di Kunjungi Wisatawan Dan Bersejarah Di Pulau Pinang, Malaysia. Terletak di kawasan George Town, Chew Jetty adalah bagian dari deretan “Clan Jetties” — perkampungan kayu yang di bangun di atas laut oleh komunitas Tionghoa perantauan sejak abad ke-19. Tempat ini tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang sejarah migrasi, budaya, dan ketahanan komunitas.

Chew Jetty di dirikan oleh marga Chew, salah satu kelompok Tionghoa yang datang ke Penang untuk bekerja sebagai buruh pelabuhan pada masa kolonial Inggris. Pada saat itu, banyak imigran Tiongkok mencari kehidupan yang lebih baik di Asia Tenggara. Mereka membangun rumah-rumah kayu di atas tiang pancang di perairan dangkal sebagai tempat tinggal sekaligus komunitas yang saling mendukung.

Nama “jetty” sendiri merujuk pada dermaga atau struktur yang menjorok ke laut. Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi perkampungan permanen yang di huni turun-temurun oleh keluarga marga Chew. Hingga kini, sebagian keturunan asli masih tinggal di sana, menjaga tradisi leluhur mereka.

Arsitektur Unik di Atas Laut

Daya tarik utama Chew Jetty terletak pada arsitekturnya yang khas. Rumah-rumah kayu berdiri di atas tiang pancang yang tertanam di dasar laut, membentuk jalur papan panjang sebagai akses utama. Saat berjalan di atas jembatan kayu tersebut, pengunjung dapat merasakan suasana kampung nelayan yang autentik.

Banyak rumah di hiasi dengan lampion merah, altar kecil untuk sembahyang, serta ornamen tradisional Tionghoa. Beberapa bagian juga menampilkan mural dan dekorasi modern yang menambah daya tarik visual. Saat matahari terbenam, pemandangan langit senja yang memantul di permukaan laut menjadi momen favorit para wisatawan untuk berfoto.

Kehidupan Komunitas

Meski menjadi objek wisata populer, Chew Jetty tetap merupakan kawasan hunian. Pengunjung di imbau untuk menjaga sopan santun dan menghormati privasi warga. Di beberapa rumah, terdapat toko kecil yang menjual suvenir, makanan ringan, hingga kerajinan tangan.

Komunitas di Chew Jetty masih mempertahankan tradisi budaya, termasuk perayaan festival Tionghoa seperti Tahun Baru Imlek dan Festival Hantu Lapar. Pada momen-momen tersebut, suasana kampung menjadi semakin meriah dengan dekorasi dan ritual tradisional.

Bagian dari Warisan Dunia Chew Jetty

Kawasan George Town di Penang telah di akui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2008. Chew Jetty menjadi salah satu bagian penting dari warisan budaya tersebut karena mencerminkan sejarah multikultural dan kehidupan masyarakat pelabuhan pada masa lampau.

Keberadaan Clan Jetties, termasuk Chew Jetty, menjadi simbol harmonisasi antara budaya Tionghoa dan Melayu di Malaysia. Tempat ini menunjukkan bagaimana komunitas imigran mampu bertahan dan berkembang di lingkungan baru tanpa kehilangan identitas budaya mereka.

Daya Tarik Wisata

Tempat ini sangat mudah di akses dari pusat kota George Town. Pengunjung biasanya datang untuk menikmati suasana santai, berburu foto, atau sekadar berjalan-jalan menyusuri dermaga kayu. Terdapat pula beberapa kedai yang menjual minuman segar dan jajanan lokal.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari menjelang matahari terbenam. Cahaya keemasan yang menyinari rumah-rumah kayu menciptakan suasana romantis dan hangat. Namun, pagi hari juga menawarkan suasana yang lebih tenang dengan udara laut yang segar.

Chew Jetty bukan sekadar destinasi wisata, melainkan saksi hidup perjalanan sejarah komunitas Tionghoa di Penang. Keunikan arsitektur rumah panggung di atas laut, kehidupan masyarakat yang masih autentik, serta nilai sejarahnya menjadikan tempat ini wajib di kunjungi saat berada di Penang.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan perpaduan budaya, sejarah, dan keindahan pesisir dalam satu lokasi, Chew Jetty adalah pilihan yang tepat. Tempat ini membuktikan bahwa warisan budaya dapat tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Exit mobile version