Site icon BeritaViva24

Prabowo: Ekonomi RI Tumbuh 5% Di Tengah Tantangan Global

Prabowo: Ekonomi RI Tumbuh 5% Di Tengah Tantangan Global

Prabowo: Ekonomi RI Tumbuh 5% Di Tengah Tantangan Global

Prabowo, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berhasil bertahan di atas 5% pada tahun berjalan merupakan bukti bahwa fondasi ekonomi nasional cukup kuat meskipun berada dalam lingkungan ekonomi global yang tidak stabil. Capaian tersebut di anggap sebagai sinyal bahwa strategi keberlanjutan pembangunan dari pemerintahan sebelumnya, termasuk hilirisasi mineral, perluasan akses digital, dan penguatan infrastruktur dasar, memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian tanah air.

Menurut paparan resmi pemerintah, sejumlah indikator makro menunjukkan performa yang positif. Konsumsi rumah tangga—penopang terbesar ekonomi Indonesia—tetap tumbuh stabil berkat terjaganya daya beli dan rangkaian program bantuan sosial. Di sektor industri, aktivitas manufaktur mencatat ekspansi yang konsisten, terutama pada industri makanan-minuman, otomotif, elektronik ringan, serta pengolahan nikel dan turunannya. Pemerintah juga menilai bahwa sektor pertanian, perdagangan, dan jasa transportasi turut menopang kinerja ekonomi nasional.

Selain itu, belanja negara di arahkan untuk mempercepat realisasi proyek-proyek strategis seperti pembangunan sistem logistik nasional, integrasi transportasi perkotaan, dan energi terbarukan. Pemerintah memandang pembangunan ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga meningkatkan produktivitas nasional dalam jangka menengah.

Namun, Prabowo mengingatkan bahwa pencapaian ini tidak boleh membuat Indonesia lengah. Meskipun tren pertumbuhan tetap positif, kondisi global yang masih bergejolak memungkinkan munculnya tekanan pada nilai tukar dan harga komoditas. Untuk itu, pemerintah menegaskan perlunya sinergi kebijakan antara fiskal dan moneter, sekaligus memperkuat cadangan devisa untuk mengantisipasi volatilitas pasar.

Prabowo, Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah menilai bahwa pertumbuhan di atas 5% bukan hanya angka statistik, tetapi cerminan dari ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi ketidakpastian global.

Tantangan Eksternal Yang Mengancam Pertumbuhan

Tantangan Eksternal Yang Mengancam Pertumbuhan, di tengah pencapaian pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, pemerintah mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan eksternal yang tidak dapat di abaikan. Salah satu faktor terbesar adalah pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral negara-negara maju, terutama Amerika Serikat. Tingginya suku bunga global berpotensi mendorong arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia, sehingga memicu tekanan pada nilai tukar dan pasar obligasi dalam negeri.

Tantangan lain datang dari ketidakpastian geopolitik dunia yang sedang meningkat. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menyebabkan fluktuasi harga minyak dan gas, yang berdampak pada biaya energi dalam negeri. Sementara itu, gangguan rantai pasok global akibat situasi politik di Eropa Timur dan Asia Pasifik meningkatkan biaya logistik dan produksi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika kondisi ini berlanjut, tekanan inflasi dapat meningkat dan mempengaruhi stabilitas harga domestik.

Dari sisi perdagangan, perlambatan ekonomi di Tiongkok masih menjadi risiko signifikan bagi Indonesia. Sebagai mitra dagang utama dan pembeli terbesar sejumlah komoditas ekspor, melemahnya permintaan dari negara tersebut dapat menekan pendapatan ekspor Indonesia, khususnya komoditas andalan seperti batu bara, nikel, karet, dan kelapa sawit. Fluktuasi harga komoditas turut menciptakan ketidakpastian dalam penerimaan negara dan pendapatan perusahaan di sektor ekstraktif.

Selain itu, perubahan iklim menjadi tantangan struktural yang semakin konkret. Cuaca ekstrem yang mempengaruhi panen, produktivitas industri, dan logistik berpotensi menimbulkan tekanan tambahan terhadap ekonomi domestik. Pemerintah menyadari bahwa tanpa mitigasi yang baik, risiko-risiko tersebut dapat menggerus pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Sebagai respons, Indonesia memperkuat strategi di versifikasi pasar ekspor ke negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Pemerintah juga menggencarkan diplomasi ekonomi untuk memperluas akses produk-produk unggulan Indonesia di pasar global. Di sisi moneter, Bank Indonesia memperkuat intervensi valas, melakukan kerja sama swap mata uang dengan berbagai negara. Dan menjaga stabilitas suku bunga agar tidak menghambat investasi.

Agenda Ekonomi Pemerintah Untuk Menjaga Stabilitas

Agenda Ekonomi Pemerintah Untuk Menjaga Stabilitas, untuk memastikan ekonomi tetap tumbuh stabil, pemerintah menyiapkan serangkaian kebijakan dengan fokus pada produktivitas, pemerataan, dan ketahanan. Hilirisasi tetap menjadi prioritas utama guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Pemerintah berencana memperluas hilirisasi tidak hanya di sektor mineral seperti nikel, tembaga, dan bauksit, tetapi juga di sektor pertanian, perikanan, dan industri kreatif.

Dalam sektor pangan, pemerintah mempercepat modernisasi pertanian melalui mekanisasi, subsidi alat produksi, serta pengembangan kawasan food estate yang berbasis teknologi. Tujuannya adalah meningkatkan kemandirian pangan dan menekan ketergantungan impor. Di bidang energi, pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan dan perluasan jaringan listrik menjadi prioritas untuk mendukung kebutuhan industri yang terus berkembang.

Pemerintah juga memperkuat program bantuan sosial agar lebih tepat sasaran melalui digitalisasi data penerima manfaat. UMKM mendapat perhatian khusus melalui perluasan akses pembiayaan berbunga rendah serta pendampingan digital untuk meningkatkan daya saing di pasar lokal maupun internasional.

Dari sisi investasi, pemerintah terus menyederhanakan regulasi dan memperbaiki kemudahan berusaha. Transformasi digital pada layanan publik—melalui sistem OSS dan integrasi data nasional—di harapkan memangkas hambatan birokrasi. Selain itu, berbagai insentif di berikan kepada investor strategis di sektor manufaktur, teknologi, dan energi terbarukan.

Stabilitas fiskal menjadi kunci utama. Pemerintah menjaga defisit anggaran tetap dalam rentang aman dengan meningkatkan efektivitas belanja serta optimalisasi penerimaan negara. Upaya pemberantasan kebocoran anggaran dan digitalisasi perpajakan menjadi fokus reformasi. Dengan demikian, ruang fiskal dapat tetap terjaga untuk mendukung program-program prioritas tanpa menciptakan risiko terhadap keberlanjutan keuangan negara.

Seluruh agenda tersebut di susun untuk memastikan perekonomian tetap solid meskipun berada di tengah tekanan global yang meningkat.

Prediksi Pertumbuhan 2025 Dan Dampak Bagi Masyarakat

Prediksi Pertumbuhan 2025 Dan Dampak Bagi Masyarakat, menatap 2025, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,1 hingga 5,4%, dengan catatan stabilitas global mulai pulih dan investasi kembali meningkat. Jika ekspor membaik seiring penguatan permintaan internasional, sektor manufaktur di perkirakan menjadi motor utama pertumbuhan. Proyek infrastruktur besar yang berlanjut—termasuk pembangunan konektivitas wilayah dan fasilitas energi—juga akan berkontribusi pada peningkatan aktivitas ekonomi.

Prabowo menyoroti pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian integral kestabilan ekonomi. Upaya meningkatkan mekanisasi pertanian, memperluas irigasi, dan meningkatkan produktivitas petani terus menjadi prioritas dalam rangka menjaga pasokan domestik. Pemerintah meyakini bahwa ketahanan pangan yang kuat akan menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, serta menjaga daya beli, yang pada akhirnya memperkuat konsumsi nasional.

Bagi masyarakat, pertumbuhan ekonomi yang stabil berarti peluang kerja lebih luas, peningkatan upah, dan perbaikan daya beli. Pemerintah menargetkan inflasi tetap rendah agar tidak menggerus pendapatan rumah tangga. Stabilitas harga pangan menjadi perhatian khusus, mengingat porsi belanja pangan masih mendominasi pengeluaran masyarakat. Upaya di versifikasi sumber pasokan domestik menjadi langkah penting mengurangi risiko gejolak harga.

Namun, sejumlah tantangan tetap perlu di perhatikan. Ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi harga minyak, yang berdampak pada biaya transportasi dan logistik. Kondisi ini dapat menekan pelaku usaha kecil yang sensitif terhadap perubahan biaya produksi. Selain itu, digitalisasi ekonomi yang semakin cepat menuntut peningkatan keterampilan tenaga kerja agar tidak tertinggal.

Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan ekonomi ke depan harus bersifat inklusif. Artinya, pertumbuhan tidak hanya di rasakan oleh sektor industri besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terpencil dan kelompok rentan. Prabowo menekankan pentingnya pemerataan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan untuk menciptakan masyarakat yang lebih produktif dan sejahtera.

Dengan strategi jangka panjang yang terukur, Indonesia di harapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat posisinya sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Prabowo.

Exit mobile version