Permintaan China Turun, Nikel Indonesia Tertekan

Permintaan China Turun, Nikel Indonesia Tertekan

Permintaan China Turun, penurunan permintaan nikel dari China mulai memunculkan tekanan besar bagi pasar global dan khususnya Indonesia, yang selama ini di kenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Dalam tiga triwulan terakhir, data tren perdagangan menunjukkan penurunan konsisten dalam pembelian produk olahan nikel oleh industri hilir China. Padahal, China selama satu dekade terakhir menjadi penggerak utama permintaan nikel dunia, terutama melalui sektor baja nirkarat dan industri baterai kendaraan listrik.

Pelemahan permintaan ini muncul dari berbagai faktor yang saling memengaruhi. Pertama, sektor properti di China yang belum pulih sepenuhnya membuat konsumsi baja, termasuk baja nirkarat yang menggunakan nikel sebagai material utama, mengalami stagnasi. Proyek konstruksi yang tertunda, arus kas perusahaan properti yang tertekan, serta turunnya minat masyarakat membeli unit perumahan menyebabkan kebutuhan baja menurun. Dampaknya menjalar hingga ke rantai pasok nikel.

Faktor kedua adalah perlambatan di industri kendaraan listrik (EV). Penjualan mobil listrik di China memang masih tumbuh, tetapi tidak lagi secepat dua tahun lalu ketika subsidi pemerintah masih sangat besar. Kini, perusahaan EV menghadapi kompetisi ketat, margin tipis, dan tekanan untuk mengurangi produksi. Hal itu membuat permintaan baterai turun, dan otomatis konsumsi nikel sebagai salah satu bahan baku baterai menurun. Beberapa pabrikan EV bahkan mulai mengurangi stok bahan baku untuk menjaga efisiensi modal.

Faktor ketiga adalah kehati-hatian pelaku industri China terhadap ketidakpastian ekonomi global. Ketegangan geopolitik, risiko perlambatan ekonomi Amerika Serikat, hingga melemahnya mata uang yuan membuat banyak perusahaan memilih menunda pembelian bahan baku dalam skala besar. Akumulasi faktor ini mendorong harga nikel global bergerak dalam tren menurun. Harga LME (London Metal Exchange) sempat mencapai titik terendah sejak dua tahun terakhir, meski sempat mengalami sedikit koreksi teknikal.

Permintaan China Turun, dalam situasi seperti ini, pelaku pasar meyakini bahwa pelemahan permintaan dari China tidak akan pulih dalam waktu cepat.

Dampak Langsung Ke Indonesia: Tekanan Bagi Smelter, Ekspor, Dan Harga Patokan

Dampak Langsung Ke Indonesia: Tekanan Bagi Smelter, Ekspor, Dan Harga Patokan sebagai negara dengan kapasitas produksi nikel terbesar di dunia, Indonesia merasakan dampak yang paling signifikan dari turunnya permintaan China. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia membangun industri pengolahan nikel secara masif, terutama melalui ekspansi smelter yang tersebar di Sulawesi dan Maluku. Kapasitas produksi meningkat drastis, bahkan melebihi pertumbuhan permintaan global.

Ketika permintaan melemah, kelebihan pasokan otomatis menekan harga. Smelter menghadapi situasi yang tidak mudah: biaya operasional meningkat, sementara harga jual turun. Beberapa smelter yang baru beroperasi atau yang memiliki biaya produksi tinggi menjadi paling rentan. Tekanan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan jangka panjang dari proyek-proyek smelter yang di buat dengan pembiayaan besar.

Pada sisi ekspor, pelaku industri mencatat adanya perlambatan pengiriman produk olahan nikel, terutama NPI (Nickel Pig Iron) dan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate). Mitra dagang utama seperti China mengurangi volume pembelian, sementara pasar alternatif seperti Korea Selatan dan Jepang tidak cukup besar untuk menutupi penurunan tersebut. Hal ini menciptakan jurang permintaan yang cukup signifikan.

Di dalam negeri, pemerintah harus menyesuaikan Harga Patokan Mineral (HPM) nikel seiring dengan fluktuasi harga global. Penurunan HPM otomatis berdampak pada pendapatan perusahaan tambang dan penerimaan negara, termasuk royalti dan PNBP dari sektor minerba. Penurunan pendapatan industri tambang juga dapat memengaruhi tenaga kerja dan aktivitas ekonomi di daerah penghasil nikel.

Investor pun mulai bersikap lebih hati-hati. Meskipun Indonesia tetap menjadi pemain besar di pasar nikel global, ketidakpastian harga membuat beberapa investor menunda rencana ekspansi. Ini terlihat dari melambatnya pengumuman proyek baru dalam beberapa bulan terakhir. Pasar modal juga menunjukkan sentimen serupa: saham perusahaan nikel di Bursa Efek Indonesia cenderung bergerak sideways atau melemah dalam tren jangka menengah.

Oversupply Struktural: Ekspansi Smelter Indonesia Justru Menambah Tekanan

Oversupply Struktural: Ekspansi Smelter Indonesia Justru Menambah Tekanan salah satu isu terbesar yang kini di hadapi pasar nikel global adalah oversupply atau kelebihan pasokan. Ironisnya, sebagian besar oversupply ini berasal dari Indonesia. Karena ekspansi industri smelter yang sangat pesat dalam lima tahun terakhir. Setelah larangan ekspor bijih nikel di berlakukan, Indonesia mendorong pembangunan fasilitas pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah. Hasilnya, kapasitas produksi NPI dan feronikel Indonesia melonjak drastis, bahkan melampaui proyeksi awal.

Dalam periode 2020–2024, penambahan smelter baru setiap tahun membuat pasokan dari Indonesia meningkat secara eksponensial. Ketika harga nikel masih tinggi, ekspansi tersebut memberikan keuntungan besar bagi investor dan mendorong pendapatan negara. Namun ketika permintaan global melambat—terutama dari China—pasokan dari Indonesia justru menciptakan tekanan tambahan terhadap harga.

Kondisi ini membuat pasar nikel berada dalam fase kelebihan suplai yang berkepanjangan. Lembaga riset internasional bahkan memperkirakan bahwa surplus nikel global akan terus berlanjut hingga setidaknya tiga atau empat tahun ke depan. Kecuali ada gangguan pasokan besar atau lonjakan permintaan mendadak dari sektor baterai.

Di sinilah dilema besar Indonesia muncul. Di satu sisi, negara ingin mendorong hilirisasi dan meningkatkan nilai ekspor. Namun di sisi lain, produksi yang terlalu besar tanpa di ikuti peningkatan permintaan global justru menekan harga. Smelter yang baru beroperasi seringkali membutuhkan waktu untuk mencapai efisiensi optimal, sehingga biaya produksi mereka lebih tinggi. Jika harga global turun terlalu jauh, risiko kerugian meningkat.

Industri kendaraan listrik yang di harapkan menjadi penyelamat pun belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Banyak produsen EV global kini beralih pada teknologi baterai LFP (Lithium Iron Phosphate), yang tidak menggunakan nikel atau kobalt. Peralihan ini menambah tekanan terhadap proyeksi permintaan jangka panjang. Meskipun baterai berbasis nikel tetap penting untuk kendaraan jarak jauh. Pertumbuhan baterai LFP yang lebih murah membuat pasar nikel tidak seluas yang di perkirakan beberapa tahun lalu.

Tantangan Dan Strategi: Menata Ulang Hilirisasi Agar Tetap Berkelanjutan

Tantangan Dan Strategi: Menata Ulang Hilirisasi Agar Tetap Berkelanjutan dalam situasi penuh tekanan seperti ini, Indonesia perlu menata ulang strategi hilirisasi nikel agar tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.

Strategi pertama adalah melakukan di versifikasi pasar. Indonesia selama ini terlalu bergantung pada China sebagai pembeli utama produk olahan nikel. Ketika permintaan dari China melemah, dampaknya langsung terasa. Pemerintah dapat memperluas kerja sama dengan negara lain, seperti India, Uni Eropa, dan negara-negara ASEAN yang sedang mengembangkan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Strategi kedua adalah mendorong peningkatan kualitas produk olahan nikel. Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan NPI atau feronikel yang nilainya relatif rendah. Untuk memperkuat daya saing, Indonesia perlu memperbanyak fasilitas pemrosesan tingkat lanjut seperti HPAL (High Pressure Acid Leach) untuk menghasilkan bahan baku baterai berkualitas tinggi.

Strategi ketiga adalah menjaga efisiensi industri. Pemerintah perlu memberi ruang bagi pengembangan teknologi produksi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Efisiensi energi, pengelolaan limbah yang lebih baik, serta standar operasional yang modern dapat menekan biaya produksi dan membuat smelter Indonesia tetap kompetitif meski harga global turun.

Strategi keempat adalah memastikan bahwa ekspansi industri tidak melampaui pertumbuhan permintaan global. Pemerintah dapat mempertimbangkan peninjauan kembali terhadap pipeline pembangunan smelter baru. Jika terlalu banyak smelter beroperasi dalam waktu bersamaan, oversupply struktural akan sulit di hindari.

Strategi kelima adalah menjaga hubungan dagang yang stabil dengan China. Meskipun di versifikasi pasar penting, China tetap menjadi pemain utama yang tidak bisa di abaikan. Indonesia dapat memanfaatkan forum bilateral untuk mendorong kerja sama yang lebih terstruktur, termasuk dalam pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik.

Ke depan, masa depan industri nikel Indonesia masih memiliki prospek cerah, namun perlu pengelolaan yang hati-hati agar tidak terjebak dalam jebakan kelebihan pasokan dan penurunan harga Permintaan China Turun.