
Wisata Ramah Muslim 2026 Cina Jadi Destinasi “Tikus Hitam” Baru
Wisata Ramah Muslim, industri wisata ramah Muslim terus mengalami peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir, dan tren ini di prediksi mencapai puncaknya pada tahun 2026. Dengan populasi Muslim dunia yang di proyeksikan mencapai hampir dua miliar jiwa, kebutuhan akan destinasi yang mampu menyediakan makanan halal, fasilitas ibadah, serta pengalaman liburan yang sesuai gaya hidup Muslim semakin tinggi. Lembaga riset pariwisata internasional memperkirakan jumlah perjalanan wisatawan Muslim global akan melampaui 230 juta perjalanan per tahun pada 2026. Menjadikannya salah satu segmen terbesar dan paling menjanjikan.
Yang menarik, tren ini tidak hanya di manfaatkan oleh negara mayoritas Muslim. Destinasi non-muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Singapura sudah lebih dulu mengembangkan layanan ramah Muslim. Dan menggaet jutaan wisatawan Asia Tenggara setiap tahunnya. Namun laporan terbaru menunjukkan bahwa Cina — negara yang sebelumnya jarang masuk daftar favorit wisatawan Muslim. Kini secara mengejutkan muncul sebagai “tikus hitam” atau pendatang baru yang tiba-tiba melesat dan berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru industri wisata halal dunia.
Pergeseran minat wisatawan juga berperan penting. Wisatawan Muslim dari generasi milenial dan Gen Z cenderung lebih terbuka terhadap destinasi baru. Mencari pengalaman unik, mengejar budaya otentik, dan ingin merasakan perjalanan jauh dari stereotip klasik wisata halal. Yang biasanya lekat dengan negara-negara Timur Tengah atau Asia Tenggara. Mereka ingin mencoba kuliner unik, mengunjungi kota futuristik, mendalami sejarah, dan menjelajahi alam luas — selama kebutuhan dasar seperti makanan halal dan akses ibadah tetap tersedia.
Wisata Ramah Muslim, dengan kombinasi antara pertumbuhan wisata global, perubahan preferensi wisatawan muda, dan strategi pemerintah yang agresif, Cina kini resmi masuk radar sebagai destinasi besar berikutnya dalam wisata ramah Muslim. Kemunculannya sebagai “tikus hitam” menunjukkan bahwa sektor pariwisata halal kini bergerak lebih dinamis dan kompetitif di banding sebelumnya.
Mengapa Cina Tiba-Tiba Jadi Calon Kuat Wisata Halal 2026?
Mengapa Cina Tiba-Tiba Jadi Calon Kuat Wisata Halal 2026? Banyak pihak mempertanyakan bagaimana Cina bisa muncul secara tiba-tiba sebagai pemain baru dalam wisata halal. Mengingat selama ini negara tersebut tidak memiliki reputasi kuat dalam penyediaan layanan ramah Muslim.
Pertama, Cina memiliki sejarah panjang dengan komunitas Muslim. Kehadiran Muslim di Cina telah berlangsung selama lebih dari 1.400 tahun. Etnis Hui dan Uighur menjadi populasi Muslim terbesar, dengan kebudayaan, kuliner, serta jaringan masjid yang tersebar di berbagai provinsi. Kota seperti Xi’an, Yinchuan, Lanzhou, dan Ürümqi memiliki identitas Islam yang kental dan menjadi daya tarik wisata unik. Keberadaan Masjid Agung Xi’an, salah satu masjid tertua di Asia Timur. Menjadi bukti kuat bahwa Cina memiliki akar sejarah Islam yang belum banyak di kenal wisatawan dunia.
Kedua, investasi besar-besaran dalam infrastruktur menjadikan perjalanan wisata di Cina sangat nyaman. Pembangunan jaringan kereta cepat, modernisasi bandara internasional, dan sistem transportasi kota yang terintegrasi membuat wisatawan mudah berpindah dari kota modern. Seperti Shanghai ke kota bersejarah seperti Xi’an atau wilayah alam seperti Xinjiang hanya dalam hitungan jam.
Ketiga, pemerintah Cina mulai memperluas sertifikasi halal, khususnya untuk restoran dan hotel yang banyak di kunjungi turis internasional. Di kota-kota besar, restoran halal kini menampilkan label berbahasa Arab, Inggris, dan Mandarin, sehingga wisatawan lebih mudah mengidentifikasi makanan yang aman di konsumsi. Hotel-hotel di kawasan populer juga mulai menyediakan arah kiblat, sajadah, serta informasi masjid terdekat.
Keempat, biro perjalanan Cina mulai mempromosikan paket wisata khusus Muslim. Paket ini mencakup kunjungan ke masjid bersejarah, kuliner halal lokal, wisata alam, dan tur budaya etnis Hui atau Uighur.
Terakhir, Cina menawarkan pengalaman wisata yang unik dan beragam dalam satu negara. Wisatawan dapat menikmati kota-kota futuristik seperti Shenzhen dan Shanghai, menjelajahi pegunungan megah di Zhangjiajie, menyusuri jalur sutra kuno di Gansu, hingga berfoto di lanskap salju Xinjiang yang mirip Eropa.
Kebutuhan Utama Wisatawan Muslim Dan Bagaimana Cina Mengakomodasinya
Kebutuhan Utama Wisatawan Muslim Dan Bagaimana Cina Mengakomodasinya, wisatawan Muslim memiliki kebutuhan spesifik yang membedakannya dari segmen wisata lainnya. Secara umum, ada lima kebutuhan utama: akses kuliner halal, fasilitas ibadah, lingkungan yang ramah Muslim, informasi yang jelas dan mudah di akses, serta rasa aman saat melakukan perjalanan. Cina kini mulai memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dengan lebih terstruktur.
Dalam hal kuliner, Cina memiliki keragaman makanan halal luar biasa. Hidangan Hui seperti mie tarik Lanzhou, roti panggang Uyghur, sup daging sapi, hingga masakan pedas khas barat laut Cina menjadi daya tarik kuliner unik bagi wisatawan Muslim. Banyak restoran halal di kota besar kini di lengkapi signage Arab sehingga mudah di kenali. Wisatawan dari Indonesia dan Malaysia melaporkan bahwa mencari makanan halal di kota besar seperti Beijing dan Shanghai kini jauh lebih mudah di banding lima tahun lalu.
Untuk ibadah, banyak kota memiliki masjid aktif. Masjid Nanxiapo di Beijing, Masjid Agung Xi’an, Masjid Dongguan di Xining, dan Masjid Nanguan di Yinchuan menjadi beberapa lokasi populer yang sering di kunjungi wisatawan. Beberapa bandara besar juga menyediakan ruang salat khusus. Sementara itu, hotel internasional menawarkan perlengkapan dasar seperti arah kiblat dan sajadah sesuai permintaan.
Cina juga berupaya membuat wisatawan Muslim merasa aman dan nyaman. Infrastruktur yang modern, keamanan publik yang tinggi, serta informasi turis yang semakin lengkap memberi rasa tenang bagi wisatawan yang belum familiar dengan negara tersebut.
Selain fasilitas, pengalaman wisata menjadi daya tarik lain. Wisatawan Muslim kini tidak hanya menginginkan fasilitas halal, tetapi juga cerita dan pengalaman mendalam. Cina menawarkan pengalaman budaya Muslim yang kaya. Dari pasar tradisional di Xinjiang, komunitas Hui yang ramah di Ningxia, hingga desa-desa tua yang mempertahankan tradisi Islam selama ratusan tahun. Bagi wisatawan yang ingin petualangan alam, gurun Taklamakan, Pegunungan Tianshan, Danau Sayram, hingga kawasan salju Altay menawarkan pemandangan dramatis yang sulit di temukan di negara lain.
Prospek 2026, Tantangan Yang Mengintai, Dan Dampaknya Bagi Negara Tetangga
Prospek 2026, Tantangan Yang Mengintai, Dan Dampaknya Bagi Negara Tetangga, meskipun perkembangan wisata ramah Muslim di Cina sangat cepat, negara tersebut tetap menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua wilayah memiliki sertifikasi halal yang konsisten, perbedaan bahasa masih menjadi hambatan. Dan persepsi global tentang isu sosial-politik tertentu dapat memengaruhi keputusan wisatawan. Cina masih perlu memperluas pelatihan hospitality agar staf hotel dan restoran memahami kebutuhan wisatawan Muslim dengan lebih baik.
Namun dari sisi prospek, analis pariwisata percaya bahwa Cina dapat menjadi salah satu dari lima tujuan wisata halal terbesar dunia pada 2026. Dengan kombinasi antara infrastruktur kuat, keindahan alam berkelas dunia, dan promosi agresif, negara tersebut mampu menarik jutaan wisatawan Muslim dari Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Pertumbuhan Cina juga membawa dampak besar bagi negara lain. Malaysia dan Indonesia — dua raksasa wisata halal dunia — perlu mempertahankan keunggulan mereka. Jepang, Korea Selatan, dan Thailand yang selama ini menjadi pilihan favorit wisatawan Muslim juga harus berinovasi agar tidak kehilangan pasar.
Tren ini juga di perkuat oleh pergeseran kebijakan pariwisata Cina yang memasang target kunjungan turis internasional lebih tinggi untuk periode 2025–2027. Pemerintah melihat pasar wisata Muslim sebagai peluang besar, terutama karena tingginya mobilitas wisatawan dari Asia Tenggara dan Timur Tengah. Mereka bukan hanya berpotensi menjadi wisatawan jangka pendek, tetapi juga wisatawan yang loyal apabila pengalaman mereka positif.
Jika tren ini berlanjut, peta wisata halal global akan berubah. Cina akan menjadi salah satu destinasi paling di perhitungkan oleh wisatawan Muslim pada 2026. Dengan posisi yang mungkin setara atau bahkan melampaui negara lain dalam beberapa tahun mendatang Wisata Ramah Muslim.