Thailand Masa Berkabung Nasional Atas Wafatnya Ratu Ibu Sirikit

Thailand Masa Berkabung Nasional Atas Wafatnya Ratu Ibu Sirikit

Thailand Masa Berkabung Nasional kembali di liputi duka mendalam setelah Istana Kerajaan secara resmi mengumumkan wafatnya Ratu Ibu Sirikit, ibu dari Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X), pada usia 93 tahun. Kabar ini di sampaikan melalui siaran nasional pada pagi hari tanggal 24 Oktober 2025, di sertai dengan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh negeri. Bagi rakyat Thailand, wafatnya Ratu Ibu bukan sekadar kehilangan seorang anggota keluarga kerajaan, melainkan kehilangan figur kebangsaan yang telah mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan, kebudayaan, dan persatuan nasional selama lebih dari tujuh dekade.

Ratu Ibu Sirikit, yang bernama lengkap Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara, di kenal sebagai sosok yang penuh kasih, anggun, dan berdedikasi tinggi terhadap kesejahteraan rakyat. Sejak menikah dengan Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) pada tahun 1950, beliau menjadi simbol keibuan bangsa, pendamping setia dalam setiap perjalanan panjang pemerintahan Raja yang paling di cintai oleh rakyat Thailand itu. Selama masa pemerintahannya sebagai Permaisuri, Ratu Sirikit memainkan peran aktif dalam diplomasi budaya, pembangunan sosial, serta pelestarian tradisi Thailand di tengah arus modernisasi global.

Menurut pernyataan resmi dari Biro Rumah Tangga Kerajaan, Ratu Ibu Sirikit wafat dengan tenang di Siriraj Hospital, tempat beliau di rawat sejak beberapa bulan terakhir akibat komplikasi kesehatan. Pengumuman tersebut di ikuti dengan perintah langsung dari Raja Vajiralongkorn untuk menetapkan masa berkabung nasional selama 30 hari. Seluruh pegawai negeri, lembaga pendidikan.

Thailand Masa Berkabung Nasional, setelah kepergiannya, seluruh negeri bersatu dalam doa dan refleksi. Wafatnya Ratu Ibu Sirikit tidak hanya menandai akhir perjalanan hidup seorang tokoh besar, tetapi juga menjadi momentum bagi bangsa Thailand untuk mengenang nilai-nilai yang beliau wariskan: kasih, kesederhanaan, dan cinta tanpa pamrih terhadap rakyatnya.

Kehidupan Dan Pengabdian Seorang Ratu Ibu

Kehidupan Dan Pengabdian Seorang Ratu Ibu lahir pada 12 Agustus 1932 di Bangkok, dari keluarga bangsawan keturunan Kitiyakara. Sejak muda, ia di kenal cerdas dan berwawasan luas. Pendidikan formalnya di tempuh di Thailand dan kemudian di lanjutkan di luar negeri ketika ayahnya, Pangeran Nakkhatra Mangkala Kitiyakara, menjabat sebagai duta besar Thailand di Prancis. Di sinilah beliau bertemu dengan Pangeran Bhumibol Adulyadej, yang saat itu masih menempuh pendidikan di Swiss. Pertemuan yang tak di sangka tersebut menjadi awal kisah cinta yang kelak membentuk sejarah panjang kerajaan Thailand modern.

Setelah menikah dan naik takhta bersama Raja Bhumibol pada tahun 1950, Ratu Sirikit langsung menjadi bagian integral dari kehidupan bernegara. Ia tak hanya menjalankan tugas seremonial, tetapi juga berperan aktif dalam diplomasi luar negeri. Sebagai pendamping Raja yang di kenal sangat dekat dengan rakyat, Ratu Sirikit kerap menemani beliau dalam kunjungan ke daerah terpencil, meninjau proyek pembangunan, serta menyapa masyarakat di pedesaan yang sulit di jangkau.

Ratu Sirikit percaya bahwa kemajuan bangsa tidak hanya di tentukan oleh pembangunan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan sosial dan budaya. Dengan pandangan tersebut, ia menciptakan berbagai program pemberdayaan perempuan, pelestarian kain tradisional, serta pengembangan kerajinan tangan khas Thailand. Berkat dedikasinya, banyak perempuan desa mampu meningkatkan taraf hidup keluarga melalui keterampilan menenun, membatik, dan membuat produk-produk tradisional yang kini di ekspor ke berbagai negara.

Tak hanya di dalam negeri, reputasi Ratu Sirikit juga di akui secara global. Ia menjadi simbol kebudayaan Thailand di panggung dunia, menghadiri berbagai forum internasional, dan mempromosikan citra positif negerinya melalui diplomasi kultural. Dunia mengenalnya sebagai sosok Ratu yang anggun, cerdas, dan penuh belas kasih—paduan yang jarang di temukan dalam kepemimpinan modern.

Thailand Masa Berkabung Nasional Dan Tradisi Upacara Kerajaan

Thailand Masa Berkabung Nasional Dan Tradisi Upacara Kerajaan penetapan masa berkabung nasional selama 30 hari menjadi wujud penghormatan tertinggi dari rakyat dan pemerintah Thailand. Dalam masa ini, seluruh kegiatan hiburan, konser, serta acara publik yang bersifat perayaan di tiadakan. Televisi nasional menayangkan program khusus berupa dokumenter perjalanan hidup Ratu Ibu, disertai musik klasik dan siaran doa bersama yang digelar di berbagai kuil besar di seluruh negeri.

Upacara kenegaraan untuk Ratu Ibu Sirikit di rancang dengan penuh kehormatan dan sesuai tradisi panjang monarki Thailand. Proses persemayaman dilakukan di aula suci Wat Phra Si Rattana Satsadaram (Kuil Buddha Zamrud), tempat bersemayamnya para raja dan ratu sebelumnya. Setelah masa doa bersama selama 100 hari, akan dilakukan upacara kremasi kerajaan yang disebut Phra Merumas. Disertai prosesi keagamaan dan penghormatan dari anggota keluarga kerajaan, pejabat tinggi, serta perwakilan negara sahabat.

Selama masa berkabung, masyarakat juga di ajak untuk merenungkan ajaran-ajaran moral yang ditinggalkan Ratu Ibu. Pemerintah meluncurkan program “Living with Compassion”, yang mengajak rakyat. Meneladani kehidupan beliau dalam hal kepedulian sosial dan kasih sayang terhadap sesama. Banyak sekolah dan universitas mengadakan seminar khusus mengenai warisan moral dan sosial. Dari Ratu Ibu, menegaskan bahwa nilai-nilai yang beliau ajarkan harus terus hidup di generasi muda.

Tradisi berkabung di Thailand bukan hanya ritual simbolik, melainkan bentuk nyata dari rasa hormat dan kesetiaan rakyat terhadap monarki. Bagi masyarakat Thailand yang sangat menjunjung tinggi konsep “Nattayatham” (ketulusan hati), berkabung bukan sekadar mengenang. Kepergian seseorang, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan spiritualitas nasional. Dalam konteks ini, masa berkabung Ratu Ibu Sirikit menjadi momentum refleksi nasional yang mempererat ikatan antara rakyat dan istana.

Warisan Cinta Dan Kesetiaan Untuk Bangsa Thailand

Warisan Cinta Dan Kesetiaan Untuk Bangsa Thailand terbesar Ratu Ibu Sirikit tidak hanya berupa lembaga, proyek sosial. Atau penghargaan internasional, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang beliau tanamkan dalam hati rakyatnya. Dalam pandangan rakyat Thailand, Ratu Ibu adalah simbol cinta tanpa batas—cinta yang tidak membedakan status sosial, wilayah, maupun agama. Di wilayah selatan yang mayoritas Muslim, di utara yang masih kental budaya Lanna. Maupun di pedalaman Isan yang sederhana, nama Ratu Sirikit selalu disebut dengan penuh rasa hormat.

Lebih dari itu, Ratu Sirikit mewariskan teladan tentang kepemimpinan yang lembut namun tegas, penuh kasih tetapi berwibawa. Dalam setiap kunjungan kerja, beliau tidak pernah tampil berjarak. Ia mendengarkan rakyat, berbicara dengan bahasa mereka, dan memberi solusi langsung terhadap persoalan kehidupan sehari-hari. Pendekatan humanis inilah yang menjadikan rakyat mencintainya bukan karena gelar kebangsawanan, tetapi karena kepribadiannya yang tulus.

Kini, setelah beliau tiada, bangsa Thailand berkomitmen untuk melanjutkan cita-cita dan program-program yang beliau rintis. Pemerintah mengumumkan akan membangun Museum Warisan Ratu Ibu Sirikit di Bangkok sebagai pusat edukasi dan kebudayaan nasional. Museum tersebut akan memamerkan arsip sejarah, busana, karya seni, dan dokumentasi. Perjalanan hidup beliau, agar generasi mendatang dapat belajar tentang makna pengabdian dan cinta terhadap bangsa.

Ratu Ibu Sirikit akan selalu di kenang sebagai “Ratu dari Hati Rakyat.” Kepergiannya memang meninggalkan duka yang dalam, tetapi warisan moral dan cintanya akan terus menjadi cahaya bagi Thailand. Dalam setiap doa, rakyat percaya bahwa Ratu Ibu kini telah bersatu kembali dengan Raja Bhumibol, mendampingi beliau di alam baka, seperti mereka berdua. Pernah mendampingi rakyat dengan penuh kasih di dunia ini dengan Thailand Masa Berkabung Nasional.